Pembugaran Kubah Masjid Raya Ruhama Menuai Polemik, Anggaran Rp900 Juta Dinilai Hilangkan Nilai Budaya Gayo

ADMIN
29 Okt 2025 05:32
BERITA 0 190
2 menit membaca

Takengon,SCNews.co.id. –29 Oktober 2025, Proyek pembugaran kubah Masjid Raya Ruhama Takengon tahun 2025 menuai sorotan tajam dari masyarakat Aceh Tengah. Pasalnya, kegiatan yang menelan anggaran fantastis senilai Rp900 juta itu dinilai justru merusak nilai estetika dan menghapus identitas budaya Gayo yang melekat pada masjid kebanggaan masyarakat tersebut.

Kekecewaan warga memuncak setelah melihat perubahan mencolok pada tampilan kubah yang kini berubah warna serta hilangnya kaligrafi di puncak menara. Padahal, menurut masyarakat, kaligrafi dan ukiran kerawang yang selama ini menghiasi masjid bukan sekadar ornamen, melainkan simbol marwah Gayo serta identitas keislaman Aceh Tengah.

 

> “Kerawang itu bukan sekadar hiasan, tapi lambang jati diri orang Gayo. Menghapusnya sama saja menghilangkan ruh budaya kita,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.

 

 

Sumber lain menyebutkan, pembugaran kali ini justru lebih banyak menimbulkan kekecewaan karena dianggap tidak melalui perencanaan yang matang. Bahkan, sebagian warga menduga proyek tersebut sarat dengan kepentingan tertentu dan tidak mencerminkan transparansi penggunaan anggaran.

 

Sebagai perbandingan, pada tahun 2016, kegiatan serupa pernah dilakukan dengan anggaran hanya sekitar Rp100 juta, mencakup pengecatan seluruh kubah dan pintu gerbang masjid. Hasilnya saat itu dinilai sangat memuaskan dan tetap mempertahankan nilai estetika khas Gayo.

 

Kini, dengan dana hampir sembilan kali lipat lebih besar, pekerjaan pembugaran justru dianggap asal-asalan dan menghapus identitas ke-Gayoan Masjid Raya Ruhama.

 

> “Kalau dulu dengan seratus juta saja bisa bagus dan tetap berkarakter Gayo, mengapa sekarang dengan sembilan ratus juta hasilnya malah seperti ini?” keluh seorang warga di sekitar masjid.

 

 

 

Masyarakat Aceh Tengah berharap pemerintah daerah segera meninjau kembali hasil pekerjaan tersebut serta memastikan setiap proyek yang menyentuh ikon budaya dan keagamaan dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan terhadap nilai lokal.

 

 

Tim Redaksi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *