Miris, Petugas MBG Angkut Makanan dengan Gerobak Sorong: Akses ke MIN 7 Takengon Terblokir Proyek SMA Muhammadiyah

ADMIN
12 Nov 2025 09:25
PERISTIWA 0 1393
2 menit membaca

Takengon,SCNews.co.id. — Potret yang tak semestinya terjadi di dunia pendidikan terekam di kawasan Kebayakan, Aceh Tengah. Sejumlah petugas MBG yang di bantu Para Guru tampak harus mengangkut Makanan Bergizi (Grek) akibat tertutupnya akses jalan utama menuju MIN 7 Takengon.

Pemandangan memprihatinkan itu terjadi sejak dimulainya pembangunan gedung belajar SMA Muhammadiyah Takengon, yang bersumber dari anggaran APBN Tahun 2025 senilai Rp 1,19 miliar. Proyek tersebut semula disambut antusias karena diharapkan memperbaiki fasilitas pendidikan di daerah berhawa sejuk itu. Namun kini, harapan itu berubah menjadi sumber keluhan dan kesulitan bagi sekolah tetangga.

 

 

Penutupan jalan utama menuju MIN 7 Takengon membuat kendaraan roda empat tak lagi bisa melintas. Akibatnya, segala bentuk distribusi barang, termasuk memakan Bergizi kini dilakukan dengan alat seadanya yaitu mengunakan gerobak sorong yang didorong melintasi lorong sempit selebar satu setengah meter.

 

Situasi ini bukan hanya menyulitkan petugas, tetapi juga mengganggu kegiatan belajar mengajar. Pasokan logistik sekolah yang biasa diangkut dengan mobil kini harus melewati jalur alternatif yang sempit, bahkan tak jarang membuat petugas kewalahan.

 

 

Media berhasil mengabadikan aktivitas pengangkutan makanan dengan gerobak sorong tersebut pada Rabu, 12 November 2025, saat berkunjung dan bersilaturahmi dengan pihak MIN 7 Takengon. Dalam foto yang beredar, terlihat dua petugas sekolah mendorong gerobak berisi kotak makanan melewati lorong di antara bangunan proyek yang berdiri kokoh.

 

Pemandangan ini sontak mengundang keprihatinan berbagai pihak. Di tengah gencarnya program pemerintah untuk meningkatkan mutu dan fasilitas pendidikan, justru muncul ironi dua lembaga pendidikan Islam berdampingan, namun terpisah oleh tembok proyek yang menutup akses utama satu sama lain.

 

 

Pembangunan SMA Muhammadiyah Takengon sejatinya mencakup rehabilitasi empat ruang kelas, tiga toilet, satu ruang administrasi, dan satu perpustakaan. Namun pelaksanaannya dinilai kurang memperhatikan dampak sosial dan lingkungan sekitar, terutama terhadap akses vital menuju MIN 7 Takengon yang berada di area bersebelahan.

 

 

 

Hingga berita ini diterbitkan, akses utama menuju MIN 7 Takengon masih belum dapat dilalui kendaraan roda 4. Aktivitas pengangkutan makanan dan perlengkapan sekolah lain masih tetap dilakukan menggunakan gerobak sorong, menjadi simbol nyata betapa buruknya koordinasi antarinstansi dalam pelaksanaan proyek pendidikan.

 

Sebuah ironi di tengah upaya membangun ruang belajar baru, justru lahir dinding pemisah antara dua lembaga pendidikan yang seharusnya berjalan seiring demi masa depan anak bangsa.

 

Tim Redaksi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *