*Jeritan Pedalaman Gayo: Wih Dusun Jamat dan Ujian Nyata Hadirnya Negara*

ADMIN
21 Des 2025 07:17
BERITA 0 264
2 menit membaca

Aceh Tengah, SCNews.co.id -21 Desember 2025.Kehadiran Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, di Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, kembali membuka pertanyaan lama yang tak pernah benar-benar terjawab oleh negara: sampai di mana batas tanggung jawab pemerintah terhadap wilayah pedalaman?

Akses jalan yang sulit ditembus, distribusi logistik yang tidak menentu, layanan kesehatan dan pendidikan yang terbatas, serta kondisi ekonomi warga yang rapuh—terutama pascabencana—bukanlah cerita baru. Yang baru hanyalah wajah pejabat yang datang, sementara pertanyaan lama kembali menggantung,setelah ini, apa?

Warga menyambut kehadiran Bupati dengan harapan yang bercampur kecemasan. Pengalaman panjang mengajarkan mereka bahwa banyak kunjungan berakhir sebagai laporan administratif, bukan perubahan nyata.

“Kami sudah terbiasa didatangi, tapi jarang ditinggali oleh kebijakan,” ungkap seorang warga dengan nada getir.

Almisry Al Isaqi, yang kerap menyuarakan keresahan masyarakat Linge, menilai bahwa Kecamatan Linge hari ini adalah barometer paling jujur untuk mengukur hadir atau tidaknya negara di Bumi Gayo.

“Jika negara gagal di Linge, maka kegagalan itu bukan soal geografis, tetapi soal keberanian politik dan keberpihakan anggaran,” tegasnya.

Menurut Almisry, persoalan Linge bukan terletak pada kekurangan data. Semua masalah telah berulang kali dicatat: akses jalan, ketahanan pangan, layanan dasar, hingga pemulihan ekonomi. Namun yang terus absen adalah keputusan yang tegas dan eksekusi kebijakan yang konsisten serta berkelanjutan.

Masyarakat menegaskan, kehadiran negara tidak diukur dari pidato, diskusi, atau dokumentasi kunjungan. Negara diukur dari jalan yang benar-benar dibangun, bantuan yang datang tepat waktu, layanan publik yang hidup, serta rasa aman yang dirasakan warga setiap hari. Selama itu belum terwujud, kehadiran negara masih akan dipandang sebagai simbol semata.

Kini sorotan tertuju pada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Apakah kunjungan ke Wih Dusun Jamat akan menjadi titik balik kebijakan pembangunan pedalaman, atau kembali menjadi catatan singkat dalam rutinitas birokrasi? Bagi masyarakat pedalaman, menunda bukan sekadar menguji kesabaran, melainkan mempertaruhkan hidup.

Wih Dusun Jamat hari ini tidak sedang meminta belas kasihan. Ia mengajukan tuntutan konstitusional: hak untuk hidup layak di tanah sendiri. Di sanalah jeritan pedalaman Gayo menemukan maknanya—sebagai pengingat bahwa negara tidak diuji di pusat kekuasaan, melainkan di tempat-tempat yang paling lama ditinggalkan.

 

Redaksi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *