Pasar Murah Gas 3 Kg di Aceh Tengah Berujung Kecewa, Ribuan Warga Pulang dengan Tabung Kosong.

ADMIN
23 Des 2025 04:11
PERISTIWA 0 342
2 menit membaca

Aceh Tengah,SCNews.co.id  —Harapan ribuan warga Aceh Tengah untuk mendapatkan gas LPG 3 kilogram dengan harga terjangkau pupus sudah. Program pasar murah yang digelar pemerintah justru berubah menjadi potret kegagalan distribusi, menyisakan kekecewaan, amarah, dan kelelahan masyarakat yang sejak dini hari rela mengantre.

Sejak pukul 04.00 WIB, antrean panjang telah mengular. Warga datang membawa tabung kosong, berharap pulang dengan isi. Udara dingin pagi Takengon mereka lawan, berganti panas menyengat saat matahari mulai meninggi. Namun hingga pukul 10.00 WIB, harapan itu sirna—stok gas habis, sementara antrean masih mengular tanpa kepastian.

Ribuan warga terpaksa pulang dengan tangan hampa. Tabung-tabung kosong kembali dibawa pulang, menjadi simbol kekecewaan atas kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada realitas kebutuhan masyarakat.

Salah seorang warga, Boy (nama samaran), yang mengantre di salah satu titik penjualan gas LPG 3 kg di seputaran Kota Takengon, tak mampu menyembunyikan kekesalannya.

“Pemerintah sepertinya tidak punya perasaan. Saya antre sejak jam 4 pagi, tapi tidak dapat bagian. Kami berdiri dari kedinginan sampai kepanasan, ujung-ujungnya pulang dengan tabung kosong,” ujarnya dengan nada geram.

Situasi di lapangan pun sempat memanas. Di salah satu titik penjualan di kecamatan berbeda, keributan antarwarga yang berebut antrean hampir tak terbendung. Kondisi tersebut memaksa aparat kepolisian yang berjaga untuk mengambil tindakan cepat dengan melepaskan tembakan peringatan ke udara guna meredam ketegangan dan mencegah bentrokan lebih besar.

Peristiwa ini menjadi gambaran nyata betapa rapuhnya sistem distribusi gas LPG 3 kg di Aceh Tengah, terlebih di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum pulih sepenuhnya pasca bencana dan terganggunya jalur distribusi di wilayah tengah Aceh.

Alih-alih menghadirkan solusi, pasar murah gas LPG 3 kg tersebut justru meninggalkan luka sosial, rasa lelah, dan kemarahan kolektif. Masyarakat Aceh Tengah kini mempertanyakan kehadiran negara—apakah benar hadir untuk menjawab kebutuhan rakyat, atau sekadar menjalankan program tanpa perhitungan matang atas dampak yang ditimbulkan.

 

Redaksi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *