Banjir dan Longsor Aceh Tengah: Antara Fakta Ilmiah dan Peringatan Etis

ADMIN
14 Des 2025 23:04
DAERAH 0 320
2 menit membaca

Oleh: Afdhalal Gifari, Ketua Umum HMI Cabang Takengon–Bener Meriah

Aceh Tengah,SCNews.co.id. -Banjir dan longsor yang berulang di Aceh Tengah tidak dapat lagi dipahami semata sebagai peristiwa alam yang berdiri sendiri. Dalam perspektif ilmiah, bencana adalah hasil interaksi kompleks antara faktor alamiah—curah hujan tinggi, kondisi geologis, dan topografi pegunungan—dengan faktor antropogenik berupa perilaku manusia yang mengubah keseimbangan ekosistem. Ketika dua faktor ini bertemu tanpa kendali, maka risiko berubah menjadi keniscayaan.

Secara ekologis, Aceh Tengah berada pada kawasan hulu dengan fungsi strategis sebagai penyangga kehidupan. Kerusakan tutupan hutan, alih fungsi lahan yang tidak berbasis daya dukung lingkungan, serta lemahnya penegakan hukum kehutanan telah menurunkan kemampuan alam dalam menyerap dan mengendalikan air. Dalam ilmu lingkungan, kondisi ini dikenal sebagai ecological overshoot, yakni ketika aktivitas manusia melampaui kapasitas regeneratif alam. Dampaknya nyata: tanah kehilangan daya ikat, debit air meningkat drastis, dan longsor menjadi tak terelakkan.

Namun, membaca bencana hanya dari sisi teknokratis adalah bentuk reduksi atas maknanya. Dalam perspektif etika sosial dan teologi Islam, bencana juga dapat dimaknai sebagai peringatan moral. Al-Qur’an menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah tangan manusia. Ini bukan narasi fatalistik, melainkan seruan tanggung jawab—bahwa manusia adalah khalifah yang kelak dimintai pertanggungjawaban atas amanah pengelolaan bumi.

Sayangnya, hingga hari ini, respons kebijakan sering kali berhenti pada tahap darurat: evakuasi, bantuan logistik, dan perbaikan sementara. Padahal, pendekatan ilmiah modern menuntut disaster risk reduction yang sistematis dan berkelanjutan—mulai dari reformasi tata ruang, audit lingkungan hidup, hingga pelibatan masyarakat lokal sebagai subjek mitigasi, bukan sekadar objek penderita. Tanpa keberanian politik untuk mengoreksi kesalahan struktural, bencana akan terus menjadi siklus, bukan anomali.

Sebagai Ketua Umum HMI Cabang Takengon–Bener Meriah, saya menegaskan bahwa persoalan ini adalah ujian kepemimpinan dan keadaban publik. Negara tidak boleh kalah oleh pembiaran, dan pembangunan tidak boleh mengorbankan keselamatan rakyat. Ilmu pengetahuan telah memberi peringatan, agama telah memberi rambu, dan realitas lapangan telah menyajikan bukti. Yang kurang hanyalah keberanian untuk bertindak secara konsisten dan berpihak pada masa depan.

Banjir dan longsor Aceh Tengah harus menjadi titik balik. Jika tidak, maka kita sedang membiasakan diri hidup dalam krisis yang kita ciptakan sendiri. Lebih tragis lagi, kita mewariskan bencana, bukan keberlanjutan, kepada generasi yang akan datang.

Rill

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *