*Di Tengah Bencana, Hiburan ‘Bebas’ Jadi Sorotan: Syariat Aceh Dipertanyakan*

ADMIN
5 Apr 2026 14:37
BERITA 0 309
2 menit membaca

Bener Meriah, SCNews.co.id —Minggu 5 April 2026.Sebuah video yang memperlihatkan aktivitas tak lazim di kolam pemandian air panas di Kabupaten Bener Meriah viral di berbagai media sosial. Dalam video tersebut tampak laki-laki dan perempuan berbaur dalam satu kolam tanpa pembatas, memicu gelombang kritik dari masyarakat.

Fenomena ini dinilai bertolak belakang dengan penerapan syariat Islam yang selama ini menjadi identitas Aceh. Terlebih, kejadian tersebut berlangsung di tengah situasi daerah yang masih diliputi berbagai persoalan pascabencana, sehingga menuai reaksi keras dari publik.

Salah satu kritik tajam datang dari politisi muda Aceh Tengah, Julian Binasco. Ia mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dalam menegakkan nilai-nilai syariat Islam di wilayah tersebut. Menurutnya, lokasi pemandian tersebut seharusnya sudah lama ditutup jika berpotensi menimbulkan pelanggaran norma.

“Tempat ini seharusnya sudah ditutup sejak lama. Di mana peran syariat Islam? Jangan sampai kita hanya menampilkan diri sebagai masyarakat yang taat agama, tetapi di lapangan justru membiarkan praktik yang bertentangan,” tegas Julian.

Ia juga menyinggung lemahnya pengawasan dari instansi terkait, khususnya Dinas Syariat Islam. Julian menilai, pembiaran terhadap aktivitas semacam ini dapat merusak citra Aceh sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.

“Kalau pemerintah tidak mampu menegakkan syariat Islam, jangan sampai mencoreng nama ulama dan tokoh agama Aceh. Ini bukan hanya soal satu lokasi, tapi menyangkut marwah daerah,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Julian menyayangkan kondisi tersebut terjadi di wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan agama dengan banyaknya pondok pesantren dan santri.

Ia menilai, kondisi ini mencerminkan adanya kontradiksi antara identitas daerah dan realitas di lapangan.

“Bener Meriah dikenal sebagai daerah yang banyak melahirkan santri, tapi kini justru membuka ruang yang berpotensi menciptakan maksiat. Ini ironi yang harus segera dibenahi,” ujarnya.

Julian juga menyinggung kepemimpinan daerah dan meminta adanya tindakan tegas dari pemerintah, termasuk evaluasi terhadap pengelolaan lokasi wisata yang dinilai melanggar norma syariat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pihak yang bersangkutan masih dalam upaya konfirmasi lebih baik Pemerintah Kabupaten Bener Meriah maupun Dinas Syariat Islam maupun pemilik wisata pemandian air panas terkait viralnya video tersebut.

 

Yusra Efendi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *