Diduga Asal Jadi? Huntara Korban Banjir di Aceh Utara Roboh dan Tuai Kemarahan Warga.

ADMIN
24 Feb 2026 03:05
PERISTIWA 0 148
2 menit membaca

ACEH UTARA,SCNews.co.id. — 24 Februari 2026.Penderitaan warga korban banjir di Dusun Bahagia, Gampong Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara seolah belum menemukan titik akhir. Hampir tiga bulan pascabencana, harapan yang semestinya hadir lewat hunian sementara (huntara) justru berubah menjadi kekhawatiran baru: bangunan yang roboh dan air bersih yang tak layak digunakan.

 

Alih-alih menjadi tempat berlindung yang aman bagi keluarga terdampak, sejumlah unit huntara dilaporkan dalam kondisi rapuh. Bahkan, salah satu bangunan disebut sudah roboh meski belum lama ditempati. Situasi ini membuat warga hidup dalam ketakutan setiap hari.

Seorang warga terdampak berinisial I mengaku kecewa dengan kondisi fasilitas yang disediakan. Ia menilai bantuan yang datang tidak menjawab kebutuhan mendasar para korban.

“Sumur bor tidak bersih. Airnya keruh dan tidak layak pakai. Sudah hampir tiga bulan pasca banjir, tapi fasilitas dasar seperti ini belum juga maksimal,” ujarnya dengan nada kecewa, Senin (23/2/2026).

Keluhan warga tak berhenti pada persoalan air bersih. Mereka juga menyoroti kualitas pembangunan huntara yang dianggap asal jadi. Bangunan yang seharusnya menjadi tempat aman justru dinilai membahayakan keselamatan penghuninya.

“Kalau seperti ini huntaranya, kami takut. Belum lama ditempati sudah roboh. Kami khawatir bisa menimpa penghuni,” ungkap warga lainnya saat dihubungi jurnalis melalui pesan WhatsApp.

Bagi masyarakat, banjir memang musibah alam yang tidak bisa dihindari. Namun mereka menilai, buruknya kualitas penanganan pascabencana justru memperpanjang derita para korban yang sudah kehilangan banyak hal.

“Banjir itu musibah, bukan anugerah. Jangan sampai bantuan yang diberikan malah membahayakan kami,” tegasnya.

Kini warga mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek pembangunan huntara serta fasilitas air bersih. Mereka meminta pengawasan yang lebih ketat dan transparansi atas kualitas pekerjaan yang dikerjakan di lapangan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, warga khawatir dampaknya tidak hanya soal kenyamanan hidup, tetapi juga bisa berujung pada risiko keselamatan yang lebih besar—mulai dari ancaman bangunan roboh hingga krisis air bersih yang berpotensi memicu masalah kesehatan.

Bagi para korban banjir di Dusun Bahagia, bantuan tidak sekadar soal bangunan berdiri, tetapi tentang keselamatan, kelayakan hidup, dan bukti bahwa negara benar-benar hadir di saat mereka paling membutuhkan.

 

(Samsul Bahri)

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *