Gajah Betina Ditemukan Mati di Karang Ampar, Warga Soroti Penanganan Konflik Satwa Dan Manusia.

ADMIN
21 Feb 2026 14:08
PERISTIWA 0 115
2 menit membaca

Takengon, SCNews.co.id — Penemuan seekor gajah betina yang mati di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (21 Februari 2026) dini hari, kembali memicu polemik terkait konflik antara manusia dan gajah liar di wilayah tersebut. Peristiwa ini menambah kekhawatiran warga yang selama ini merasa terancam oleh masuknya kawanan gajah ke permukiman dan perkebunan.

Menurut keterangan warga, bangkai gajah ditemukan di area kebun milik masyarakat. Sejumlah warga pun angkat bicara, menyampaikan keluhan terhadap penanganan konflik satwa liar yang dinilai belum memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Warga setempat menilai perhatian pemerintah dan pihak terkait, termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), selama ini lebih terfokus pada perlindungan satwa, sementara keselamatan warga yang tinggal di sekitar kawasan lintasan gajah juga membutuhkan perhatian serius.

Kawanan gajah yang kerap masuk ke permukiman dan kebun warga disebut telah menimbulkan keresahan. Selain merusak tanaman, keberadaan satwa liar tersebut juga dinilai berpotensi mengancam keselamatan jiwa, rumah, dan sumber penghidupan masyarakat.

Salah seorang warga yang memiliki kebun di sekitar lokasi penemuan bangkai gajah, Kifli, menjelaskan bahwa dirinya memang memasang kawat listrik di area kebunnya. Namun, menurutnya pemasangan itu ditujukan untuk menghalau hama seperti babi hutan dan monyet, bukan untuk menjebak gajah.

“Memang saya memasang kawat listrik di kebun untuk mencegah hama babi dan monyet. Tapi bukan untuk gajah. Tinggi kawat yang saya pasang hanya sekitar 30 sentimeter dari tanah dan hanya satu jalur kawat. Kalau untuk gajah biasanya harus lebih dari dua meter dan lebih dari satu kawat,” ujar Kifli.

Ia menegaskan tidak memiliki niat sedikit pun untuk memasang perangkap bagi gajah, melainkan hanya berusaha melindungi hasil panennya dari gangguan hama.

Peristiwa ini kembali memunculkan tuntutan warga agar pemerintah dan pihak terkait mengambil langkah penanganan yang lebih serius dan efektif. Masyarakat berharap perlindungan tidak hanya diberikan kepada satwa liar, tetapi juga kepada warga yang tinggal dan beraktivitas di wilayah rawan konflik.

Hingga berita ini ditayangkan, pemerintah daerah dan pihak terkait masih dalam proses konfirmasi serta penelusuran penyebab kematian gajah tersebut.

 

Redaksi

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *