
Takengon,SCNews.co.id. – Jum’at 12 Desember, Hilangnya sekitar 80 ton bantuan kemanusiaan di Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah, bukan hanya memunculkan kekecewaan Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem), tetapi juga menimbulkan gelombang ketidakpercayaan dari relawan serta donatur yang selama ini datang dari berbagai daerah.

“Saya dengar berita, berita burung, ada 80 ton bantuan hilang entah ke mana. Kita turunkan semua di Bener Meriah, banyak donatur-donatur yang menyumbangkan, tetapi ya seperti itu, tidak tepat kepada sasaran,” ujar Mualem dalam konferensi pers.
Gubernur menegaskan bahwa penyaluran logistik sebenarnya telah dipersiapkan secara maksimal. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada distribusi di lapangan. Ketidaktepatan sasaran itulah yang kini menjadi sorotan publik.
Insiden ini menimbulkan kekhawatiran baru. Sejumlah relawan dan donatur dari luar daerah mulai mempertanyakan transparansi distribusi bantuan. Bahkan, beberapa di antaranya memberi sinyal untuk menahan sementara pengiriman tambahan logistik hingga ada kejelasan mengenai mekanisme penyaluran di wilayah tersebut.
Situasi ini dikhawatirkan dapat memperlambat proses pemulihan pascabencana, terutama ketika masyarakat masih sangat bergantung pada bantuan luar untuk memenuhi kebutuhan dasar. Hilangnya 80 ton bantuan dianggap sebagai pukulan telak terhadap upaya bersama yang selama ini dibangun dengan semangat gotong royong dan kemanusiaan.
Publik kini menunggu langkah cepat pemerintah daerah untuk mengusut tuntas dugaan penyelewengan bantuan tersebut sekaligus memulihkan kembali kepercayaan relawan dan donatur yang sejauh ini menjadi pilar utama dalam penanganan bencana.
Sementara Kepala BPBD Aceh Tengah belum bisa di konfirmasi di akibatkan keterbatasan akses jaringan internet untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.
Redaksi
Tidak ada komentar