HMI Takengon–Bener Meriah Kecam Mogok Nakes RSUD Datu Beru: “Jangan Jadikan Nyawa Rakyat Alat Politik!”

ADMIN
25 Jan 2026 01:46
2 menit membaca

Takengon,SCNews.co.id. – 25 Januari 2026 .Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Takengon–Bener Meriah melontarkan kecaman keras terhadap aksi mogok kerja tenaga kesehatan di RSUD Datu Beru, Aceh Tengah. Aksi tersebut dinilai bukan semata-mata perjuangan hak normatif, melainkan telah berubah menjadi manuver politik kotor yang mengorbankan keselamatan pasien.

Ketua Umum HMI Cabang Takengon–BM, Afdhalal Gifari, menyebut mogok kerja di rumah sakit sebagai tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan dan mengkhianati sumpah profesi tenaga kesehatan.

“Kami mencium adanya operasi senyap. Hak tenaga kesehatan dijadikan komoditas politik oleh oknum internal yang haus jabatan. Ini bukan perjuangan, ini sabotase kemanusiaan,” tegas Afdhalal dalam keterangannya, Jumat (25/1).

Menurut HMI, RSUD Datu Beru merupakan fasilitas pelayanan publik vital yang tidak boleh dijadikan arena pertarungan elit birokrasi. Ketika pelayanan dihentikan, yang menjadi korban pertama adalah masyarakat kecil—pasien yang tidak punya pilihan selain bergantung pada rumah sakit pemerintah.

HMI menduga kuat adanya aktor intelektual di lingkaran internal manajemen RSUD yang sengaja memprovokasi situasi demi menggoyang posisi pimpinan rumah sakit.

“Ini bukan konflik biasa. Ini terkesan terencana, sistematis, dan menjijikkan karena menjadikan nyawa manusia sebagai sandera ambisi kekuasaan,” lanjut Afdhalal.

Lebih jauh, HMI menilai penghentian layanan di tengah ketersediaan anggaran dan fasilitas dapat dikategorikan sebagai kejahatan birokrasi, bahkan berpotensi mengarah pada penelantaran pasien.

HMI menyampaikan ultimatum tegas kepada pihak terkait. Jika pelayanan RSUD Datu Beru tidak segera dinormalisasi, HMI menyatakan siap menggalang konsolidasi massa untuk menuntut evaluasi paksa terhadap birokrasi rumah sakit yang dianggap gagal menjaga hak dasar masyarakat.

“Jangan bermain api dengan nyawa manusia. Jika elit hanya sibuk saling sikut sementara pasien dibiarkan menderita, kami pastikan tidak akan ada kursi jabatan yang aman,” tutup Afdhalal dengan nada keras.

HMI menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu ini hingga pelayanan kesehatan kembali berjalan normal dan bebas dari kepentingan politik praktis.

 

Redaksi

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *