Isu Intervensi Picu Perlawanan: AMMB Siap Bongkar Fakta di 5 Maret Di Bener Meriah

ADMIN
28 Feb 2026 22:23
BERITA 0 88
2 menit membaca

BENER MERIAH, SCNews.co.id —Minggu 1 Maret 2026. Polemik dugaan mark up pengadaan daging meugang senilai Rp4,5 miliar di Kabupaten Bener Meriah kian memanas. Setelah muncul dugaan komunikasi bernuansa tantangan dari Rahmiati Tagore Putri, putri Bupati Bener Meriah, gelombang konsolidasi justru semakin menguat.

Tiga organisasi, yakni Himpunan Mahasiswa Gayo (HIMAGA), Aliansi Masyarakat Gayo (AMG), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), resmi mematangkan rencana aksi akbar yang dijadwalkan pada 5 Maret mendatang.

Kolaborasi tersebut melahirkan wadah baru bernama Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Bergerak (AMMB). Aliansi ini dibentuk dalam konsolidasi terbuka yang digelar di Kabupaten Aceh Tengah, sebagai respon atas dinamika yang berkembang serta dugaan intervensi terhadap rencana aksi sebelumnya.

Dalam forum tersebut, empat nama ditunjuk sebagai koordinator aksi, yakni Sinar Harapan, Zamalingga, Ruhdi Sahara, dan Sadra. Mereka sepakat bahwa aksi 5 Maret bukan sekadar unjuk rasa, melainkan momentum konsolidasi moral dan politik masyarakat Gayo.

“Kami tidak sedang mencari sensasi. Ini soal marwah demokrasi dan uang rakyat. Jika ada yang merasa tertantang, maka jawabannya adalah gerakan yang lebih terorganisir dan terukur,” ujar salah satu koordinator dalam forum konsolidasi.

AMMB menyusun tujuh poin tuntutan utama yang hingga kini masih dirahasiakan. Para koordinator menyebut langkah itu sebagai strategi agar substansi tuntutan tidak lebih dulu digiring opini sebelum disampaikan secara resmi di hadapan publik dan DPRK.

Sumber internal menyebut, tuntutan tersebut akan menyasar aspek transparansi anggaran, audit independen, serta pertanggungjawaban moral dan administratif pihak-pihak yang terlibat dalam proses pengadaan.

Dengan terbentuknya AMMB, eskalasi isu ini dipastikan memasuki babak baru.

Publik kini menanti, apakah pemerintah daerah memilih membuka ruang klarifikasi dan transparansi, atau justru membiarkan gelombang aksi membesar di tengah situasi pascabencana yang masih membutuhkan konsentrasi penuh.

5 Maret mendatang diprediksi menjadi titik krusial: antara klarifikasi atau konfrontasi yang berujung pada Investigasi Mendalam dan bermuara pada eksekusi hukum.

 

Yusra Efendi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *