
Takengon, SCNews.co.id — Dalam masa pemulihan pascabencana di Aceh Tengah, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Aceh Tengah Canangkan Program Psychosocial Support Service (PSS) atau Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi siswa dan guru terdampak. Program ini bertujuan memulihkan kondisi mental serta mengembalikan semangat belajar di lingkungan sekolah.
Wakil Ketua PGRI Aceh Tengah, Selamatdin, S.Pd., M.Si, menjelaskan bahwa dukungan psikososial sangat dibutuhkan pada fase awal pemulihan pascabencana. Menurutnya, perhatian pemerintah tidak hanya difokuskan pada pembangunan fisik sekolah yang rusak, tetapi juga pada kondisi psikologis siswa dan tenaga pendidik yang turut terdampak langsung oleh situasi bencana.
“Pasca bencana ini pemerintah bukan hanya fokus pada pembangunan fisik sekolah yang rusak, akan tetapi juga harus melihat dan memperhatikan kondisi mental dan psikis siswa serta guru. Melalui program layanan dukungan psikososial yang kami jalanka saat ini,kami berupaya semaksilmal mungkin untuk dapat segera mengembalikan rasa percaya diri siswa dan guru dengan memberikan rasa aman, suport semangat belajar, kepada siswa dan guru yang sempat mengalami trauma ,” ujar Selamatdin.
Ia menambahkan, banyak siswa mengalami ketakutan dan kecemasan setelah menghadapi langsung situasi bencana. Oleh karena itu, pendampingan psikologis menjadi langkah penting agar proses belajar dapat kembali berjalan secara optimal.

Program PSS yang dilaksanakan PGRI Aceh Tengah diketahui telah berjalan dalam beberapa pekan terakhir di sejumlah sekolah terdampak.Hari ini Rabu, 11 Februari 2026, tim PGRI Aceh Tengah berkesempatan mengunjungi SD Negeri 9 Rosep Antara yang berada di Desa Kem Lut, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pendampingan psikososial dan pemulihan semangat belajar siswa.
Pelaksanaan PSS dilakukan melalui berbagai kegiatan trauma healing seperti bermain bersama, menggambar, hingga permainan edukatif yang menyenangkan. Metode ini dinilai efektif membantu anak-anak mengekspresikan emosi, menumbuhkan rasa sosial, serta memulihkan kondisi mental secara bertahap.
Pada masa awal pascabencana, sekolah juga menerapkan kurikulum darurat melalui kegiatan ceria seperti upacara ceria, senam bersama, dan tahfiz selama satu hingga dua minggu pertama. Selain itu, layanan konseling kelompok turut diberikan guna menciptakan suasana aman dan menenangkan bagi siswa.
Selamatdin juga menjelaskan bahwa guru merupakan garda terdepan dalam proses pemulihan psikologis siswa. Oleh karena itu, guru perlu dibekali pemahaman dan keterampilan khusus agar mampu memberikan pendekatan yang tepat selama masa pemulihan.
“Guru berinteraksi langsung dengan siswa setiap hari. Karena itu, kapasitas mereka dalam pendampingan psikososial harus terus diperkuat agar proses pemulihan berjalan efektif serta efisien,” katanya.
Dalam masa transisi, berbagai skema pembelajaran fleksibel diterapkan, mulai dari belajar reguler bagi sekolah yang telah pulih, belajar lesehan di ruang kelas yang rusak, hingga sistem shift dan program guru kunjung bagi sekolah yang belum dapat digunakan sepenuhnya.
Sepanjang tahun 2026, layanan PSS juga dijalankan oleh berbagai lembaga kemanusiaan seperti PMI dan Save the Children di sejumlah wilayah terdampak di Aceh dan Sumatera Utara. Beberapa dinas pendidikan daerah turut menerapkan kurikulum darurat serta pembelajaran bergantian sebagai bagian dari percepatan pemulihan pendidikan.
Selamatdin berharap kolaborasi semua pihak terus diperkuat agar pemulihan pendidikan berjalan maksimal. “Kami ingin memastikan meskipun bencana melanda, anak-anak tetap memiliki ruang aman untuk belajar, pulih, dan kembali tumbuh dengan semangat,” tutupnya.
(Yusra Efendi)
Tidak ada komentar