
Takengon,SCNews.co.id –Jumat 6 Maret 2026.Fenomena panic buying bahan bakar minyak (BBM) yang membuat masyarakat berbondong-bondong mengantre di sejumlah SPBU dinilai sangat merugikan. Tidak hanya membuang waktu dan energi, kondisi ini juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat.
Ribuan warga terlihat mengantre di berbagai SPBU di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Bahkan, sebagian masyarakat rela menunggu sejak malam hingga pagi hari demi mendapatkan BBM. Jika dihitung secara ekonomi, waktu dan tenaga yang terbuang akibat antrean tersebut memiliki nilai kerugian yang tidak sedikit.
“Bukan hanya nilai rupiah yang terbuang, namun juga beban psikologis masyarakat yang masih trauma akibat musibah sebelumnya ikut menambah penderitaan,” ujar Khosi NT, Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Aceh Tengah, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, pengalaman panic buying yang terjadi di Aceh Tengah dan Bener Meriah, terlebih dalam suasana bulan suci Ramadhan, tidak boleh terulang kembali. Pemerintah diminta lebih sigap dan tegas dalam menyikapi situasi tersebut.
Ia menegaskan, pemerintah tidak cukup hanya memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak panik. Pemerintah harus mampu memastikan bahwa kebutuhan BBM masyarakat benar-benar terpenuhi serta melakukan pengawasan yang berkelanjutan.
“Pemerintah harus kontinu melakukan pengawasan dan berani menindak pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi,” tegasnya.
Khosi mengakui langkah pemerintah Aceh Tengah yang telah menyampaikan informasi terkait ketersediaan BBM serta melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lapangan merupakan langkah positif. Namun, pengawasan tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya muncul ketika persoalan sudah terjadi.
“Pencegahan jauh lebih baik daripada mengobati. Pemerintah harus jeli mengantisipasi potensi masalah sebelum terjadi, bukan hanya memadamkan api setelah membesar,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa pengawasan pemerintah tidak boleh bersifat sementara. Jika ditemukan adanya pihak yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan pribadi atau memperkaya diri, maka harus ditindak tegas sesuai aturan yang berlaku.
Menurutnya, kondisi psikologis masyarakat saat ini juga perlu menjadi perhatian serius. Trauma akibat musibah banjir bandang yang pernah terjadi sebelumnya membuat masyarakat lebih sensitif terhadap isu kelangkaan kebutuhan pokok.
“Ketika banjir bandang terjadi, kebutuhan pokok sangat sulit didapatkan. Pengalaman itu masih membekas, sehingga sedikit saja informasi miring dapat memicu kepanikan masyarakat,” jelasnya.
Karena itu, semua pihak diminta untuk bersama-sama mengantisipasi penyebaran informasi yang tidak benar. Masyarakat juga diimbau untuk lebih bijak dalam menerima informasi dengan terlebih dahulu memverifikasi kebenarannya agar tidak mudah terpancing isu.
Di sisi lain, pemerintah diminta untuk memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa ketersediaan BBM hingga Idul Fitri dalam kondisi aman. Kepastian tersebut harus dibuktikan melalui pengawasan lapangan yang konsisten serta tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang mencoba bermain di tengah situasi tersebut.
“Pemerintah harus mampu mengembalikan kepercayaan publik bahwa mereka benar-benar hadir di tengah masyarakat. Itu tidak cukup hanya dengan imbauan, tetapi harus dibuktikan melalui kerja nyata dan pengawasan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Redaksi
Tidak ada komentar