Ramai Seremoni Budaya, Disdikbud Aceh Tengah Diminta Transparan Terkait Anggaran. 

ADMIN
16 Jul 2026 04:39
BERITA 0 63
2 menit membaca

Takengon, SCNews.co.id –Kamis 16 Juli 2026. Berbagai kegiatan kebudayaan yang difasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Tengah dalam dua tahun terakhir kembali menjadi perhatian publik.

Mulai dari Prosesi Adat Munyerahni Murid ku Tengku Guru, Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), pembinaan seni Tari Guel dan Didong, hingga berbagai pentas seni budaya di sekolah, dinilai telah menjadi agenda rutin pemerintah daerah.

Di satu sisi, upaya pelestarian budaya Gayo patut diapresiasi sebagai bagian dari menjaga identitas daerah. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana kegiatan tersebut benar-benar menjadi prioritas pembangunan pendidikan dan kebudayaan, serta memberikan manfaat yang terukur bagi masyarakat.

Sejumlah pemerhati pendidikan menilai Disdikbud Aceh Tengah perlu membuka secara transparan besaran anggaran yang dialokasikan untuk setiap kegiatan budaya beserta indikator keberhasilannya.

Publik berhak mengetahui apakah kegiatan yang dilaksanakan mampu meningkatkan pelestarian budaya, memperkuat karakter peserta didik, atau hanya berakhir sebagai agenda seremonial tahunan dan upaya pemborosan angaran semata.

Sorotan tersebut mengemuka di tengah masih adanya berbagai persoalan pendidikan yang menjadi perhatian masyarakat, seperti kondisi sejumlah fasilitas sekolah yang membutuhkan perbaikan, keterbatasan sarana belajar, hingga kebutuhan peningkatan mutu pendidikan.

“Pelestarian budaya tentu penting, tetapi pemerintah juga harus mampu menjelaskan dampak nyata dari setiap rupiah yang dibelanjakan. Jangan sampai kegiatan hanya ramai saat berlangsung, tetapi tidak memberikan hasil yang berkelanjutan,” ujar seorang pemerhati pendidikan yang meminta namanya tidak dipublikasikan.

Pengamat kebijakan publik menilai ukuran keberhasilan program kebudayaan tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya peserta atau meriahnya acara. Lebih jauh, pemerintah perlu menunjukkan indikator yang jelas, seperti meningkatnya penggunaan Bahasa Gayo di lingkungan pendidikan, bertambahnya regenerasi pelaku seni, atau berkembangnya komunitas budaya di tingkat sekolah.

Karena itu, Disdikbud Aceh Tengah didorong menyampaikan laporan kinerja program kebudayaan secara terbuka kepada masyarakat.

Transparansi tersebut dinilai penting agar publik dapat menilai apakah anggaran yang digunakan benar-benar menghasilkan manfaat yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Hingga berita ini ditulis, pihak media masih dalam upaya mengkonfirmasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tengah terkait besaran anggaran masing-masing kegiatan kebudayaan serta evaluasi capaian program selama dua tahun terakhir.

 

Yusra Efendi

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *