GMNI Bener Meriah: Jaga Hutan Demi Masa Depan Petani Kopi Gayo dan Ekonomi Daerah

ADMIN
18 Jul 2026 14:09
BERITA 0 75
3 menit membaca

Bener Meriah, SCNews.co.id – Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bener Meriah mengingatkan bahwa pelestarian hutan tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi telah menjadi faktor penentu keberlanjutan ekonomi daerah, khususnya bagi ribuan petani Kopi Gayo yang menggantungkan hidup dari sektor perkebunan.

Ketua GMNI Bener Meriah menilai, kebijakan perdagangan internasional kini semakin menuntut komoditas yang diproduksi secara berkelanjutan. Salah satu regulasi yang menjadi perhatian adalah European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang diadopsi Dewan Uni Eropa pada 16 Mei 2023 dan mulai berlaku pada 29 Juni 2023. Regulasi tersebut mewajibkan setiap komoditas yang dipasarkan ke Uni Eropa dapat dibuktikan tidak berasal dari kawasan yang mengalami deforestasi.

Melalui kebijakan itu, setiap pelaku usaha diwajibkan memiliki sistem ketertelusuran (traceability) dan data geolokasi lahan produksi sebagai jaminan bahwa produk yang dihasilkan memenuhi standar keberlanjutan dan perlindungan lingkungan.

Menurut GMNI, regulasi tersebut harus menjadi perhatian serius bagi Kabupaten Bener Meriah sebagai salah satu sentra produksi Kopi Gayo yang telah lama menembus pasar ekspor dunia. Jika tata kelola lingkungan diabaikan, bukan hanya risiko bencana ekologis yang meningkat, tetapi juga dapat mengancam akses pasar ekspor yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.

“Keberhasilan mempertahankan pasar ekspor tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas kopi, tetapi juga oleh komitmen menjaga kelestarian hutan dan lingkungan. Masa depan petani Kopi Gayo sangat bergantung pada kemampuan kita menjaga keseimbangan antara produksi dan konservasi,” demikian pandangan GMNI Bener Meriah.

GMNI menegaskan, kerusakan kawasan hutan, lemahnya pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya alam, serta menurunnya fungsi daerah aliran sungai berpotensi menimbulkan dampak berlapis. Selain meningkatkan risiko banjir, longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya, kondisi tersebut juga dapat menurunkan daya saing komoditas unggulan Bener Meriah di pasar internasional yang kini semakin ketat menerapkan standar lingkungan.

Atas dasar itu, GMNI Bener Meriah mendorong Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, Pemerintah Aceh, dan pemerintah pusat untuk memperkuat kebijakan pengelolaan lingkungan hidup melalui beberapa langkah strategis, yakni melakukan audit lingkungan secara berkala terhadap kawasan yang memiliki fungsi ekologis penting, memperkuat sistem traceability komoditas unggulan daerah, meningkatkan perlindungan kawasan hutan dan daerah aliran sungai, memberikan pendampingan kepada petani dalam menghadapi implementasi EUDR, serta memperkuat kebijakan mitigasi bencana hidrometeorologi yang berbasis pada pelestarian lingkungan.

GMNI menilai, menjaga kelestarian hutan bukan hanya merupakan tanggung jawab moral terhadap generasi mendatang, tetapi juga investasi jangka panjang bagi keberlanjutan ekonomi daerah. Hutan yang tetap terjaga akan menjaga ketersediaan sumber air, mempertahankan produktivitas lahan pertanian, mengurangi risiko bencana, sekaligus memastikan Kopi Gayo tetap memenuhi standar pasar global.

“Mari kita menjaga hutan hari ini demi menjaga masa depan petani, memperkuat ekonomi Bener Meriah, dan mempertahankan daya saing Kopi Gayo di pasar dunia. Menjaga hutan adalah menjaga masa depan Indonesia,” tutup GMNI Bener Meriah.

 

Redaksi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *