Johan Makmur Serukan Perdamaian Aceh: Jangan Biarkan Tindakan Aparat Merusak Kepercayaan Rakyat

ADMIN
23 Agu 2026 03:54
BERITA 0 133
3 menit membaca

Banda Aceh,Banda Aceh– 23 Agustus 2026.Pimpinan Forum Masyarakat Peduli Aceh (FMPA), Johan Makmur, menyampaikan pidato kebangsaan dan perdamaian Aceh dengan menyerukan seluruh pihak untuk menjaga perdamaian serta menghindari tindakan yang dapat kembali membuka luka lama masyarakat Aceh.

Dalam pidatonya, Johan menyoroti peristiwa penangkapan terhadap sejumlah masyarakat yang disebut mengikuti kegiatan di kawasan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Menurutnya, persoalan tersebut harus dipandang serius karena menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap negara dan aparat penegak hukum.

“Masjid Baiturrahman bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol sejarah, identitas, martabat, dan tempat rakyat Aceh menyampaikan doa serta suara hatinya,” ujar Johan dalam pidatonya.

Ia menegaskan, masyarakat Aceh tidak menginginkan kembalinya konflik. Menurutnya, perdamaian Aceh merupakan hasil perjalanan panjang dan pengorbanan besar yang harus dijaga bersama.

Johan juga mengingatkan pemerintah, TNI dan Polri agar tidak menggunakan pendekatan keamanan secara berlebihan dalam menghadapi masyarakat yang menyampaikan aspirasi secara damai.

“Rakyat Aceh menghormati TNI, Polri dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tetapi penghormatan kepada negara tidak berarti rakyat harus kehilangan hak untuk berbicara,” tegasnya.

Ia menilai perdamaian tidak cukup hanya dimaknai sebagai tidak adanya suara tembakan. Perdamaian, kata Johan, juga membutuhkan rasa aman, keadilan, penghormatan terhadap martabat masyarakat serta ruang bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi.

Karena itu, Johan meminta pemerintah mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan yang muncul di Aceh.

“Apabila rakyat menyampaikan aspirasi dengan damai, maka jawaban negara seharusnya adalah dialog, bukan intimidasi. Apabila ada perbedaan pandangan politik, selesaikan dengan politik dan diplomasi,” katanya.

Johan juga menyampaikan pesan kepada Presiden Republik Indonesia dan pemerintah pusat agar menjaga hubungan emosional antara masyarakat Aceh dengan pemerintah pusat.

“Kami tidak ingin kembali ke masa lalu. Kami tidak ingin konflik kembali terjadi. Kami tidak ingin anak-anak Aceh kembali tumbuh dalam suasana ketakutan,” ujarnya.

Selain menyampaikan kritik kepada pemerintah dan aparat, Johan juga memberikan pesan keras kepada jajaran GAM agar melakukan introspeksi dan tidak melepaskan tanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan perdamaian Aceh.

Ia mengingatkan bahwa GAM memiliki posisi penting dalam perjalanan perdamaian Aceh sehingga harus ikut menjaga kepercayaan masyarakat.

“Jangan suka menyalahkan panggung yang tidak stabil kalau kita sendiri memang tidak bisa menari. Mari kita bercermin dan muhasabah diri agar mengetahui kesilapan dan keteledoran kita selama ini,” katanya.

Johan menegaskan, kepercayaan masyarakat harus dijaga. Menurutnya, ketidakpercayaan yang dibiarkan dapat berkembang menjadi kekecewaan dan pada akhirnya berpotensi menimbulkan kemarahan.

“Jangan tunggu sampai ketidakpercayaan berubah menjadi kekecewaan. Jangan tunggu sampai kekecewaan berubah menjadi kemarahan. Dan jangan pernah biarkan Aceh kembali berada di persimpangan antara perdamaian dan konflik,” tegasnya.

Di akhir pidatonya, Johan mengajak seluruh rakyat Aceh tetap berdiri di atas kebenaran, menjaga persaudaraan serta mempertahankan perdamaian yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar.

“Semangat terus rakyat Aceh. Berdirilah tegak dalam hal kebenaran,” pungkas Johan Makor.

 

Redaksi

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *