AMG Geram: Hyundai Tolak Permintaan Bupati Aceh Tengah untuk Bantu Penanganan Bencana

ADMIN
9 Des 2025 13:33
BERITA 0 356
2 menit membaca

Takengon,SCNews.co.id.  — Aliansi Masyarakat Gayo (AMG) menyatakan kegeraman mendalam setelah Hyundai Engineering & Construction, perusahaan raksasa yang sedang mengerjakan proyek strategis PLTA di Aceh Tengah, menolak permintaan resmi Bupati Aceh Tengah untuk memberikan bantuan logistik bagi warga terdampak bencana.

Penolakan ini dinilai sebagai tindakan yang tidak mencerminkan etika korporasi global, apalagi dilakukan oleh perusahaan sekelas Hyundai yang memiliki akses logistik nasional hingga internasional.

Gilang Ken Tawar, Koordinator AMG, menilai penolakan ini sebagai tamparan keras bagi masyarakat Aceh Tengah.

“Hyundai adalah perusahaan besar, punya jaringan global, punya akses, dan hari ini menjadi satu-satunya perusahaan raksasa di Aceh Tengah melalui proyek PLTA. Ketika bupati menyurati secara resmi, justru mereka menolak. Ini bukan sekadar kekecewaan ini luka sosial,” ujar Gilang.

Gilang menegaskan bahwa perusahaan sebesar Hyundai tidak mungkin tidak memiliki logistik dasar atau kemampuan mobilisasi cepat.

“Sulit diterima akal sehat kalau Hyundai mengatakan tidak bisa membantu. Ini bukan masalah kemampuan, tapi masalah kemauan. Dan kemauan mereka tampaknya tidak berpihak pada masyarakat di mana mereka sedang mencari keuntungan,” lanjutnya.

Gilang menegaskan bahwa AMG tidak akan berhenti pada kecaman semata. Mereka akan melakukan langkah-langkah intelektual yang terukur dan sah secara regulasi untuk menguji komitmen Hyundai terhadap tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Kami akan membuka semua dokumen AMDAL, CSR, dan kewajiban lingkungan Hyundai. Kami akan memeriksa apakah mereka benar-benar memenuhi standar etika, regulasi, dan janji sosialnya. Jika ada celah, kami pastikan publik mengetahuinya,” tegas Gilang.

“Penolakan ini adalah indikator buruk. Hyundai jangan merasa bisa beroperasi di tanah Gayo tanpa sensitivitas sosial. Kami akan menyiapkan laporan analitis, kajian kebijakan, dan mendorong evaluasi seluruh izin pendukung jika diperlukan. Ini bukan ancaman emosional, ini ancaman intelektual,” tambahnya.

Gilang juga mengingatkan bahwa Hyundai bekerja di wilayah masyarakat adat, bukan di ruang kosong tanpa sentimen sosial.

“Jika sebuah perusahaan besar datang, mengambil manfaat ekonomi, tetapi ketika masyarakat sedang susah mereka menolak membantu, maka itu akan menjadi catatan sejarah. Reputasi Hyundai yang dibangun puluhan tahun bisa runtuh hanya dengan satu keputusan buruk seperti ini,” tegasnya.

AMG menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan seharusnya berada di atas kepentingan korporasi.

“Kalau perusahaan sebesar Hyundai tidak mampu menolong rakyat di daerah tempat mereka beroperasi, maka masyarakat akan mempertanyakan untuk siapa mereka benar-benar bekerja,” tutup Gilang.

 

Redaksi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *