Soroti Isu Tambang Liar hingga Mafia BBM, GMNI Aceh Tengah Gelar Unjuk Rasa Pekan Depan.

ADMIN
18 Sep 2026 07:04
BERITA 0 23
2 menit membaca

TAKENGON.SCNews.co.id – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Aceh Tengah mengambil sikap tegas terhadap berbagai persoalan sosial dan hukum yang tengah menghimpit masyarakat Gayo saat ini.

Dalam diskusi internal teranyar, pengurus GMNI Aceh Tengah resmi menjadwalkan aksi unjuk rasa (UNRAS) besar-besaran yang akan digelar pada 24 September 2026 mendatang.

Pengurus GMNI menilai, saat ini masyarakat pribumi seolah diasingkan di tanah sendiri akibat cengkeraman kapitalisme. Salah satu yang paling disorot adalah maraknya aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) alias tambang liar di Aceh Tengah yang terkesan kebal hukum dan dilindungi oleh oknum tertentu.

“Kekayaan alam Gayo kini seolah dikuasai oleh kapitalisme. Masyarakat pribumi mirisnya hanya diberikan peran sebagai pengamanan saja,” ujar salah satu kader GMNI, Saparuda IB.

Selain isu tambang liar, Saparuda juga membeberkan jeritan masyarakat pedalaman yang kesulitan mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi akibat indikasi penimbunan dan antrean panjang.

Oknum-oknum mafia BBM ditengarai meraup keuntungan sepihak dengan menjual BBM subsidi di atas harga wajar.

Ia mengingatkan bahwa tindakan ilegal tersebut melanggar Pasal 55 UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, dengan ancaman pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda maksimal Rp60 miliar.

Kasus Amoral di Hotel dan Jeratan RentenirDi tempat yang sama, Ketua Terpilih GMNI Aceh Tengah Periode 2026–2028, Helmi Tuah Miko, meluapkan kekesalannya terhadap lemahnya penegakan hukum syariat.

Ia menyinggung kasus dugaan perzinaan yang baru-baru ini terjadi di sebuah hotel di Aceh Tengah, melibatkan dua pria, tiga wanita, dan seorang balita, yang proses hukumnya terkesan dikaburkan oleh aparat.”Bukti sudah kuat, saksi juga ada, lantas apa yang menjadi beban penegak hukum kita?

Jika penegak syariat tidak mampu, jangan bertahan pada posisi ini!” tegas Helmi.GMNI juga menyoroti maraknya praktik rentenir dan pinjaman ilegal yang mencekik ekonomi warga lewat teror serta intimidasi.

Masalah ini kian diperparah dengan melonjaknya angka kasus HIV/AIDS di Aceh Tengah akibat minimnya edukasi, kuatnya stigma, serta mahalnya akses layanan kesehatan bagi kelompok rentan.

Konsolidasi Menuju Aksi 24 SeptemberMerespons tumpukan persoalan tersebut, Koordinator UNRAS GMNI Aceh Tengah, Muhtady, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak tinggal diam dan bersatu melawan ketidakadilan.

Mahasiswa berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam membela hak rakyat yang dirampas.”Kami bukan menebar ancaman, ini bukti GMNI berkomitmen hadir dalam seluruh persoalan rakyat. Kami sudah menjadwalkan aksi unjuk rasa pada tanggal 24 September 2026 ini,” tutup Muhtady.

 

Redaksi

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *