Pelayanan Jantung Dipertanyakan, Plt Direktur RSUD Datu Beru (AROGAN) Enggan Beri Penjelasan ke Wartawan.

ADMIN
2 Sep 2026 05:53
BERITA 0 243
3 menit membaca

Takengon, SCNews.co.id – Rabu 2 Desember 2026.Informasi mengenai tidak optimalnya pelayanan penyakit jantung di RSUD Datu Beru Takengon mulai mendapat perhatian. Persoalan tersebut mencuat setelah seorang pasien mengeluhkan kondisi fasilitas pelayanan jantung yang disebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pasien yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan kepada SCNews.co.id mengaku kecewa karena kondisi tersebut membuat pasien penyakit jantung harus mendapatkan pelayanan atau pengobatan ke luar daerah.

«“Saya merasa kecewa dengan fasilitas dan pelayanan yang ada di RSUD Datu Beru, khususnya pelayanan penyakit jantung. Tidak berfungsinya alat ini memaksa kami untuk berobat ke luar daerah, sementara hal itu tidak semudah yang dibayangkan,” ujarnya.»

Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut fasilitas rumah sakit, tetapi juga beban yang harus ditanggung pasien dan keluarga. Kondisi pasien jantung yang sewaktu-waktu dapat memburuk, ditambah keterbatasan ekonomi, membuat perjalanan ke luar daerah menjadi persoalan serius.

«“Kadang dengan kondisi fisik yang tidak stabil dan ekonomi yang cukup sulit, kami hanya bisa pasrah. Rasanya seperti menunggu ajal di tengah segala keterbatasan,” ungkapnya.»

Untuk memastikan informasi tersebut, wartawan SCNews.co.id kemudian mendatangi RSUD Datu Beru untuk meminta penjelasan langsung dari pihak rumah sakit, khususnya terkait kondisi fasilitas CATHLAB dan pelayanan jantung.

Namun, setelah menunggu sekitar 30 menit, petugas piket yang diharapkan dapat memberikan informasi tidak kunjung hadir. Wartawan kemudian berupaya meminta penjelasan langsung kepada pimpinan RSUD Datu Beru.

Saat ditemui di ruang kerjanya, Plt. Direktur RSUD Datu Beru, Dr. Indra, justru mempertanyakan izin wawancara sebelum memberikan penjelasan mengenai substansi persoalan yang hendak dikonfirmasi.

«“Apa Anda punya izin untuk wawancara? Kalau Anda tidak izin, saya tidak mau memberikan penjelasan apa pun. Kalau butuh informasi, silakan ke Humas,” ujar Indra.»

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena wartawan datang bukan untuk membuat tuduhan, melainkan melakukan konfirmasi dan verifikasi terhadap informasi yang sebelumnya disampaikan pasien.

Sikap tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai keterbukaan informasi di lingkungan rumah sakit milik pemerintah daerah. Terlebih, persoalan yang hendak dikonfirmasi menyangkut pelayanan kesehatan masyarakat dan penggunaan fasilitas publik.

Konfirmasi kepada pihak rumah sakit sejatinya penting agar informasi mengenai kondisi CATHLAB tidak hanya bersumber dari keluhan pasien. Pihak manajemen rumah sakit memiliki ruang untuk menjelaskan apakah alat tersebut mengalami kerusakan, sedang dalam pemeliharaan, memiliki kendala teknis, atau terdapat faktor lain yang menyebabkan pelayanan belum berjalan optimal.

Karena itu, SCNews.co.id menilai penjelasan resmi dari pihak RSUD Datu Beru sangat dibutuhkan agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan tidak terjadi kesimpangsiuran.

Di sisi lain, rumah sakit juga memiliki hak untuk mengatur mekanisme komunikasi melalui bagian Humas. Namun, mekanisme tersebut idealnya tidak menjadi penghalang bagi wartawan dalam melakukan konfirmasi terhadap persoalan yang menyangkut kepentingan publik.

Hingga berita ini diterbitkan, SCNews.co.id masih membuka ruang bagi pihak RSUD Datu Beru untuk memberikan klarifikasi mengenai kondisi CATHLAB, pelayanan jantung, serta alasan belum optimalnya fasilitas tersebut.

 

Redaksi : SCNews.co.id

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *