Jalur Wisata Danau Lut Tawar Rusak dan Dikepung Bau Limbah, Warga One-One Desak Pemkab Aceh Tengah Segera Bertindak.

ADMIN
24 Sep 2026 00:46
BERITA 0 47
3 menit membaca

ACEH TENGAH, SCNews.co.id — Kondisi Jalan Raya Takengon Bintang Yang Melintasi Desa One-One, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, kini kian memprihatinkan.

Kerusakan parah di sejumlah titik jalur fungsional lintas provinsi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan berkendara, tetapi juga mulai mengancam keselamatan para pengguna jalan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, aspal di kawasan tersebut tampak hancur dan dipenuhi lubang yang cukup dalam. Selain permukaan jalan yang bergelombang dan dipenuhi material kerikil tajam, genangan air limbah hitam yang meluap ke badan jalan memperparah kerusakan infrastruktur vital ini.

Tak hanya persoalan jalan berlubang, masyarakat setempat juga mengeluhkan pencemaran lingkungan yang menyengat. Aliran cairan limbah yang diduga kuat berasal dari aktivitas usaha pabrik tahu di kawasan tersebut kerap meluap ke jalan, menimbulkan bau busuk yang mengganggu warga sekitar serta wisatawan yang melintas.

Jalur Takengon – Bintang yang melintasi Desa One-One ini merupakan urat nadi transportasi yang sangat strategis. Selain berstatus sebagai jalan provinsi dan jalur fungsional yang menghubungkan dua kecamatan serta puluhan desa di Lut Tawar dan Bintang, kawasan ini juga merupakan jalur utama pariwisata menuju destinasi Danau Lut Tawar.

Warga mengkhawatirkan kerusakan akan menjadi berkali-kali lipat lebih parah jika dibiarkan tanpa penanganan, terlebih saat ini intensitas curah hujan di dataran tinggi Gayo mulai meningkat.

Warga Minta Pemerintah Turun ke Lapangan serta mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk segera mengambil langkah konkret.

Warga meminta Bupati Aceh Tengah bersama jajaran dinas terkait—mulai dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Perhubungan (Dishub), hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH)—untuk turun langsung melihat kondisi riil di lapangan.

Warga berharap Dinas PUPR segera melakukan penanganan darurat pada titik-titik yang membahayakan, termasuk merencanakan.

Pembangunan gorong-gorong atau jembatan mini. Pasalnya, ketiadaan sistem drainase yang terarah dituding menjadi penyebab utama air meluap dan mengikis badan jalan setiap hari hingga hancur.

Sementara itu, untuk persoalan lingkungan, warga meminta Dinas Lingkungan Hidup melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sumber aliran cairan limbah.

Hal ini penting untuk memastikan apakah ada kegiatan usaha yang membuang limbah cair tanpa proses pengolahan yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

“Kami berharap pemerintah daerah tidak menunggu sampai terjadi kecelakaan atau menelan korban jiwa. Jalan ini digunakan oleh masyarakat dari banyak desa setiap hari.

Kondisinya sudah sangat darurat, ditambah bau limbah yang sangat mengganggu. Kami meminta pemerintah segera turun ke lapangan dan memberikan solusi nyata,” ujar salah seorang warga setempat dengan nada cemas.

Masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak menginginkan penanganan yang bersifat sementara atau sekadar tambal sulam.

Mereka menuntut solusi permanen yang menyeluruh, baik dari segi perbaikan struktur jalan, penataan sistem drainase, hingga penegakan aturan lingkungan hidup.

Koordinasi lintas instansi sangat diperlukan agar ego sektoral tidak menghambat perbaikan akses publik ini. Bagaimanapun, jalan yang aman dan lingkungan yang sehat adalah hak dasar masyarakat serta kunci utama dalam menjaga citra Aceh Tengah sebagai daerah tujuan wisata unggulan.

Sebelum kerusakan semakin meluas, dan sebelum munculnya korban jiwa akibat kecelakaan, warga One-One mengetuk kepedulian jajaran pimpinan daerah untuk segera menyelamatkan jalur lintas Takengon – Bintang ini.

 

Redaksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *