Warga Kalampo Bergerak Secara Mandiri: Sewa 3 Ekskavator Normalisasi Sungai 10 Km Demi Cegah Banjir Susulan.

ADMIN
20 Apr 2026 08:55
BERITA 0 31
2 menit membaca

Takengon, SCNews.co.id — Warga Dusun Kalampo, Desa Lumut, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, bertindak cepat ketimbang menunggu.

Menghadapi ancaman banjir susulan pascabencana besar akhir 2025, masyarakat setempat secara swadaya menyewa tiga unit alat berat untuk menormalisasi aliran Sungai Kalampo sepanjang 10 kilometer.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Pendangkalan sungai akibat timbunan pasir, lumpur, dan bebatuan sisa banjir telah mempersempit alur air dan memicu luapan setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Kondisi ini dinilai berbahaya dan tidak bisa dibiarkan berlarut.

“Kami tidak bisa menunggu. Kalau hujan turun, air langsung meluap. Ini soal keselamatan warga, maka kami bergerak,” tegas Abadi, salah satu warga, Senin (20/4/2026).

Di tengah pengerjaan normalisasi, muncul isu liar yang menyebut aktivitas tersebut sebagai kedok tambang emas ilegal. Warga dengan tegas membantah tudingan tersebut.

“Ini murni normalisasi sungai, bukan tambang emas. Jangan dipelintir. Kami sedang berjuang menyelamatkan kampung dari banjir, bukan mencari keuntungan,” ujar Abadi dengan nada keras.

Menurutnya, isu tersebut tidak berdasar dan justru berpotensi memecah konsentrasi masyarakat yang tengah fokus pada upaya mitigasi bencana.

Selama sepekan terakhir, tiga unit ekskavator terus dikerahkan untuk mengeruk material yang menyumbat aliran sungai. Selain menekan risiko banjir, langkah ini juga ditargetkan memulihkan fungsi sungai sebagai sumber irigasi utama bagi lahan pertanian warga yang sebelumnya terdampak parah.

Normalisasi ini menjadi langkah krusial untuk memastikan musim tanam hingga tidak kembali gagal akibat gangguan aliran air.

Aksi warga Kalampo ini menjadi bukti nyata kekuatan gotong royong di tengah krisis bencana dengan tanpa menunggu pemerintah daerah mereka memilih bergerak cepat, mengorbankan biaya pribadi demi menjaga keselamatan dan keberlangsungan hidup bersama di tengah ancaman cuaca ekstrem yang belum mereda.

 

Rill

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *