Di Balik Dugaan Pungli Di Desa Pedemun: Saat Suara Warga Dibayangi Tekanan Serta Diskriminasi. 

ADMIN
25 Mar 2026 19:13
PERISTIWA 0 71
3 menit membaca

ACEH TENGAH, SCNews.co.id —26 Maret 2026. Malam di Desa Pedemun yang biasanya tenang berubah menjadi tegang pada Senin (23/3/2026).

Di sebuah rumah sederhana yang di tumpangi Sukurdi seorang korban bencana banjir bandang terjadi suara perdebatan pecah.

Warga sekitar menyebutnya sebagai keributan yang tak biasa terjadi hanya sehari setelah namanya muncul dalam pemberitaan dugaan pungutan liar bantuan bencana.

Informasi itu pertama kali sampai ke awak SCNews.co.id melalui seorang aparatur kampung.

Ia menyebut, suasana di rumah Sukurdi malam itu dipenuhi adu argumen antara sukurdi dengan sejumlah aparatur desa yang datang, termasuk Reje Pedemun, Abdurrahman, dan Manjardi yang sebelumnya disebut sebagai delegasi.

Bagi Sukurdi, malam itu menjadi titik balik. Apa yang awalnya ia sampaikan sebagai bentuk keterbukaan, justru berujung pada situasi yang ia rasakan sebagai tekanan.

Keesokan paginya, Selasa, dengan nada yang berubah, Sukurdi menghubungi awak Redaksi SCNews.co.id Ia meminta agar berita yang memuat keterangannya dihapus. Permintaan itu, menurut pengakuannya, tidak datang tanpa sebab.

Ia menceritakan kembali pertemuan malam sebelumnya sebuah forum yang tidak resmi, namun penuh ketegangan. Adu argumen terjadi, disertai tekanan verbal yang menurutnya membuat dirinya berada dalam posisi terpojok hingga membuat anak dan istrinya troma.

Namun, situasi itu belum mereda.

Pada Rabu siang, sekitar pukul 11.00 WIB, aparatur desa kembali mengagendakan pertemuan di kantor desa. Alih-alih menjadi ruang klarifikasi yang tenang, forum tersebut justru kembali memanas.

Sukurdi dan beberapa saksi yang hadir menggambarkan suasana penuh tekanan. Perdebatan kembali terjadi, disertai nada tinggi, bahkan disebut adanya ucapan bernuansa ancaman.

Dalam situasi itu, muncul dorongan agar Sukurdi tidak lagi mempermasalahkan dugaan pemotongan bantuan yang sebelumnya ia sampaikan.

Di sisi lain, Manjardi tetap membantah keterlibatannya. Ia menolak tudingan yang diarahkan kepadanya, bahkan menurut sejumlah keterangan, bantahan tersebut disampaikan dengan emosi yang tinggi.

Sementara itu, beberapa aparatur desa yang hadir yang enggan disebutkan namanya mengaku sempat mendengar bahwa sejumlah uang dari penerima bantuan memang telah diserahkan ke pada reje. Namun, informasi ini masih membutuhkan penelusuran dan klarifikasi lebih lanjut.

Di tengah situasi yang menekan, Sukurdi akhirnya memilih untuk meredam keadaan. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang hadir,sebuah keputusan yang menurut pengakuannya, diambil dalam kondisi tertekan.

Kepada SCNews.co.id, ia kemudian menyatakan mundur dari persoalan ini. Kesehatan dan tanggung jawab keluarga menjadi alasan utama.

“Rangkaian kejadian dua hari ini sangat melelahkan dan menguras energi saya. Saya masih punya tanggung jawab keluarga. Saya tidak mau berurusan dengan polisi dan saya saat ini sedang sakit lebih baik saya mengalah dan meminta maaf,” ujar Sukurdi dengan nada getir.

Kisah Sukurdi menjadi potret lain dari polemik dugaan pungli bantuan bencana di Pedemun. Bukan hanya soal angka dan aliran dana, tetapi juga tentang keberanian warga bersuara dan risiko yang mungkin mereka hadapi.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak Reje Pedemun maupun aparatur desa terkait dugaan tekanan tersebut.

Di tengah situasi ini, publik berharap ada jaminan perlindungan bagi warga yang menyampaikan informasi, serta penanganan yang objektif dari aparat penegak hukum.

Sebab di balik setiap bantuan yang disalurkan, ada harapan untuk bangkit dan di balik setiap suara yang muncul, ada keberanian yang tak selalu datang tanpa konsekuensi.

 

Redaksi.

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *