Dua Pekan Tanpa Pertalite, Warga Jagung Jeget Bertahan di Tengah Keterbatasan.

ADMIN
26 Mar 2026 03:56
PERISTIWA 0 48
2 menit membaca

ACEH TENGAH, SCNews.co.id — 26 Maret 2026.Pagi itu, suasana di Jagung Jeget tampak berbeda. Tidak ada antrean kendaraan di SPBU seperti biasanya. Bukan karena kebutuhan bahan bakar berkurang, melainkan karena Pertalite BBM bersubsidi yang menjadi andalan masyarakat sudah dua pekan terakhir tak lagi tersedia.

Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar gangguan distribusi.

Namun bagi warga Jagung Jeget dan sekitarnya, kelangkaan ini terasa hingga ke denyut aktivitas harian.

Sejak SPBU setempat berhenti beroperasi akibat persoalan internal, warga terpaksa mencari alternatif.

Pengecer menjadi satu-satunya harapan, meski dengan harga yang melonjak jauh dari harga normal, mencapai Rp17.000 hingga Rp18.000 per liter.

Alimin Lingge, salah satu warga, mengisahkan bagaimana situasi ini mempersulit kehidupannya. Terlebih saat momen Lebaran yang baru saja berlalu, ketika mobilitas masyarakat meningkat.

“Saat mudik kemarin, sangat terasa. BBM sulit didapat. Kalaupun ada, harganya tinggi. Ini cukup memberatkan kami,” tuturnya dengan nada lirih.

Alimi juga menjelaskan Bagi masyarakat jagung Pertalite bukan sekadar bahan bakar. BBM Bersubsidi ini adalah salah satu penggerak ekonomi kecil baik pedagang maupun petani, yang menggantungkan penghasilan dari mobilitas harian.

Kelangkaan ini pun menjadi ironi di tengah upaya pemulihan ekonomi masyarakat. Ketika kebutuhan meningkat, akses justru terhambat.

Di sisi lain, secercah harapan mulai muncul. Apri, penanggung jawab operasional SPBU Jagung Jeget, mengonfirmasi bahwa kondisi ini terjadi akibat kendala internal manajemen.

Namun ia memastikan pasokan akan segera kembali normal.

“Besok direncanakan masuk sekitar 8 ton Pertalite,” ujarnya singkat.

Kabar itu disambut dengan harap oleh warga. Mereka menantikan kembalinya aktivitas normal tanpa harus berburu BBM atau merogoh kocek lebih dalam hanya untuk satu liter bahan bakar.

Di Jagung Jeget, dua pekan tanpa Pertalite bukan sekadar cerita tentang kelangkaan, tetapi tentang bagaimana masyarakat bertahan, menyesuaikan diri, dan terus berharap pada solusi yang segera datang.

 

Yusra Efendi

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *