
ACEH TENGAH,SCNews.co.id – Suasana penuh haru dan khidmat menyelimuti kompleks Dayah Al Azhar Paya Jeget, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, pada Ahad (5/7), dalam prosesi penyerahan santri baru Tahun Ajaran 2026/2027. Ratusan orang tua dan wali santri hadir untuk mengantarkan sekaligus menyerahkan putra-putri terbaik mereka secara resmi kepada pimpinan dayah dan para tengku guru guna menempuh pendidikan agama serta mendalami ilmu (tafaqquh fid-din).
Prosesi yang telah menjadi tradisi dalam dunia pendidikan dayah di Aceh ini berlangsung dengan tertib, penuh kekhusyukan, dan sarat makna. Bagi para orang tua, momen tersebut bukan sekadar mengantar anak memasuki pesantren, melainkan menyerahkan amanah yang paling berharga kepada para guru agar dibimbing menjadi generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, serta istiqamah dalam mengamalkan ajaran Islam.
Keikhlasan Orang Tua, Amanah Besar bagi Para Guru
Dalam prosesi penyerahan, perwakilan wali santri menyampaikan rasa syukur, haru, sekaligus harapan kepada seluruh dewan guru Dayah Al Azhar.
“Hari ini, dengan penuh keikhlasan, kami menyerahkan anak-anak kami kepada Tengku Guru di Dayah Al Azhar Paya Jeget. Kami memohon agar mereka dibimbing, dididik, diarahkan, bahkan ditegur apabila melakukan kesalahan. Kami yakin, di tempat inilah mereka akan belajar hidup mandiri, memperbaiki akhlak, serta menimba ilmu agama dari kitab-kitab muktabarah,” ungkap salah seorang wali santri.
Suasana haru begitu terasa ketika para orang tua harus berpisah dengan anak-anak mereka. Isak tangis tak mampu disembunyikan, namun di balik air mata itu tersimpan doa dan harapan agar kelak mereka kembali sebagai pribadi yang saleh, berilmu, beradab, serta bermanfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
Pimpinan Dayah Al Azhar Paya Jeget, Abu Khairul Basari, S.Pd., M.A., menyambut hangat kehadiran para santri baru beserta keluarga mereka. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa amanah mendidik para santri merupakan tanggung jawab besar yang hanya dapat dijalankan melalui sinergi yang kuat antara pihak dayah dan orang tua.
Menurut beliau, keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada proses pembelajaran di lingkungan dayah, tetapi juga pada doa, keikhlasan, dukungan, serta rida kedua orang tua. Dengan kebersamaan tersebut, diharapkan seluruh proses pendidikan memperoleh keberkahan dari Allah SWT dan melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlak mulia.
Komitmen Mencetak Generasi Qurani dan Ulama Masa Depan
Dayah Al Azhar Paya Jeget selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang memadukan sistem pendidikan salafiyah melalui pengkajian kitab-kitab turats (kitab kuning) dengan pendekatan pendidikan modern. Perpaduan tersebut menjadi ikhtiar untuk melahirkan santri yang memiliki kedalaman ilmu agama, keluasan wawasan, serta kesiapan menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Ketua Panitia Penerimaan Santri Baru, Tgk. Musa Ibrahim, S.Pd., menjelaskan bahwa pada Tahun Ajaran 2026/2027, Dayah Al Azhar menerima 320 santri baru yang terdiri atas jenjang SMP dan SMA.
“Tahun ini Alhamdulillah Dayah Al Azhar menerima sebanyak 320 santri baru. Kepercayaan masyarakat ini menjadi amanah besar yang akan kami jalankan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Para tengku guru juga menegaskan komitmen mereka untuk mendampingi para santri selama 24 jam melalui pembinaan yang berkesinambungan, sehingga terbentuk karakter yang disiplin, mandiri, beradab, cinta Al-Qur’an, serta memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu.
Prosesi penyerahan santri ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh para ulama. Suasana semakin mengharukan ketika para santri bersalaman, mencium tangan, dan memohon doa restu kepada kedua orang tua mereka sebelum resmi memasuki asrama untuk memulai perjalanan panjang sebagai penuntut ilmu.
Bagi masyarakat Gayo, tradisi menyerahkan anak kepada tengku guru bukanlah sekadar seremoni tahunan. Ia merupakan sebuah ikrar kepercayaan, penghormatan terhadap ilmu, sekaligus penyerahan amanah yang sangat besar. Di pundak para guru dititipkan harapan agar anak-anak itu kelak tumbuh menjadi generasi Qurani yang berakhlakul karimah, mendalami agama (tafaqquh fid-din), serta menjadi ulama, dai, pemimpin, dan penerang bagi umat.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan moral generasi muda, dayah tetap menjadi benteng pendidikan karakter dan penjaga nilai-nilai Islam. Dari tempat-tempat seperti inilah diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam akidah, luhur dalam akhlak, dan siap mengabdi untuk agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Tim Redaksi
Tidak ada komentar