“Untung Tak Dapat Diraih, Malang Tak Dapat Ditolak: Siswi MTsN 5 Takengon Kejang di Kelas, Berujung Duka”.

ADMIN
24 Sep 2026 16:25
PERISTIWA 0 36
3 menit membaca

TAKENGON,SCNews.co.id —24 September 2026.Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ungkapan tersebut seakan menggambarkan duka yang tiba-tiba menyelimuti keluarga besar MTsN 5 Takengon, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah.

Seorang siswi kelas IX meninggal dunia setelah mengalami kejang dan kolaps secara tiba-tiba saat mengikuti proses belajar mengajar di dalam kelas, Kamis (24/9/2026).

Tak ada yang menyangka, aktivitas belajar yang semula berjalan seperti biasa berubah menjadi kepanikan. Dalam hitungan waktu, perhatian guru dan para siswa tertuju kepada seorang siswi yang tiba-tiba mengalami kondisi darurat.

Berdasarkan informasi awal yang diterima Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Tengah dari pihak madrasah, kejadian berlangsung pada jam pelajaran pertama.

Sebelum kejadian, para siswa sedang mengikuti proses pembelajaran dan mendapatkan tugas pekerjaan rumah (PR) dari guru.

Di dalam kelas terdapat sekitar 28 hingga 30 siswa. Berdasarkan laporan awal yang diterima Kemenag, hanya sekitar tiga siswa yang telah menyelesaikan tugas tersebut.

Kepala Kemenag Aceh Tengah, Wahdi, mengatakan guru kemudian memberikan tindakan disiplin kepada siswa yang belum menyelesaikan tugas.

Namun, mengenai bentuk tindakan disiplin tersebut, pihak Kemenag mengaku belum memperoleh informasi secara lengkap.

“Menurut laporan awal kepala madrasah, ada sekitar 28 atau 30 siswa dalam kelas, namun informasinya hanya tiga yang sudah siap mengerjakan PR,” kata Wahdi kepada awak media.

“Untuk bentuk disiplinnya masih belum pasti, informasi yang kita dapat baru sejauh itu,” ujarnya.

Di tengah proses tersebut, seorang siswi tiba-tiba mengalami kejang-kejang.

Pihak sekolah kemudian segera memberikan pertolongan awal dengan membawa siswi tersebut ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Karena kondisinya tidak kunjung membaik, korban selanjutnya dibawa ke Puskesmas Bebesen untuk mendapatkan penanganan medis.

Dari Puskesmas Bebesen, korban kemudian dirujuk ke RSUD Datu Beru Takengon.

Menurut informasi yang diterima Kemenag, korban sempat memberikan respons dan masih dapat berbicara ketika mendapatkan perawatan.

Namun, kondisi korban kemudian kembali memburuk hingga mengalami kolaps.

Upaya medis dilakukan oleh tenaga kesehatan. Namun, takdir berkata lain. Korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 09.30 WIB di RSUD Datu Beru Takengon.

Kabar tersebut kemudian menjadi duka mendalam bagi keluarga korban, teman-teman sekolah serta keluarga besar MTsN 5 Takengon.

Kemenag Serahkan Penelusuran kepada Pihak Berwenang

Kepala Kemenag Aceh Tengah, Wahdi, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

Ia mengatakan pihak Kemenag memberikan dukungan kepada keluarga yang tengah menghadapi musibah tersebut.

“Kita berduka cita, kita tetap memberikan support kepada keluarga,” ujar Wahdi.

Terkait rangkaian kejadian yang berlangsung sebelum korban mengalami kejang, Kemenag Aceh Tengah menyerahkan proses penelusurannya kepada pihak yang berwenang.

Wahdi menyebutkan, Polres Aceh Tengah telah melakukan investigasi untuk mengetahui secara utuh kronologi kejadian.

“Kita mendapatkan laporan menjelang siang tadi, setelah kejadian,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa pihak Kemenag tidak akan menutup-nutupi informasi terkait peristiwa tersebut.

“Kita tidak akan menutup-nutupi peristiwa ini,” tegasnya.

Meski demikian, hingga saat ini belum dapat disimpulkan adanya hubungan antara tindakan disiplin yang diberikan guru dengan kondisi medis yang dialami korban.

Kemenag masih menunggu hasil penyelidikan serta informasi medis untuk mengetahui secara jelas penyebab korban mengalami kejang hingga akhirnya meninggal dunia.

Peristiwa tersebut menjadi sebuah kejadian naas yang tidak pernah diharapkan oleh siapa pun.

Aktivitas belajar mengajar yang semula berlangsung sebagaimana biasa, seketika berubah menjadi suasana penuh kepanikan dan akhirnya meninggalkan duka mendalam.

Wahdi yang saat dikonfirmasi masih berada dalam perjalanan dari Banda Aceh menuju Aceh Tengah mengatakan dirinya akan langsung mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

Sementara itu, masyarakat diharapkan tidak terburu-buru menarik kesimpulan mengenai penyebab meninggalnya korban.

Seluruh fakta mengenai kejadian tersebut masih dalam proses penelusuran. Kepastian mengenai kondisi medis korban maupun rangkaian kejadian di dalam kelas diharapkan dapat terungkap melalui pemeriksaan dan penyelidikan resmi.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sebuah kejadian naas yang menyisakan duka, sementara kebenaran mengenai rangkaian peristiwa tersebut kini menunggu hasil penyelidikan.

 

Redaksi

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *