*Sebut Kemunduran Demokrasi dan Pengkhianatan Reformasi, GMNI Aceh Tengah Tolak Pilkada Lewat DPRD*

ADMIN
12 Jan 2026 15:56
BERITA 0 252
2 menit membaca

Takengon,SCNews.co.id.   – Wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali memantik perdebatan politik nasional. gagasan tersebut langsung mendapat penolakan keras dari Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Aceh Tengah. Bagi GMNI, wacana itu bukan sekadar perubahan mekanisme, melainkan ancaman serius terhadap demokrasi yang telah diperjuangkan rakyat sejak reformasi.

Ketua DPC GMNI Aceh Tengah, Saparuda. IB, menegaskan bahwa pemilihan kepala daerah secara langsung merupakan hasil dari perjuangan panjang rakyat Indonesia untuk keluar dari sistem politik yang elitis, tertutup, dan sarat kepentingan kekuasaan.

“Pemilihan kepala daerah oleh DPRD berpotensi merampas hak politik rakyat. Demokrasi tidak boleh disederhanakan hanya demi alasan efisiensi atau stabilitas politik semu,” tegas Saparuda dalam keterangannya.

Menurut GMNI Aceh Tengah, berbagai persoalan yang kerap mengiringi pelaksanaan Pilkada seperti politik uang, tingginya biaya politik, dan konflik kepentingan tidak dapat dijadikan dalih untuk mencabut hak pilih rakyat.

Sebaliknya, masalah-masalah tersebut harus diselesaikan melalui penguatan sistem pengawasan, penegakan hukum yang tegas, serta pendidikan politik yang berkelanjutan.GMNI menilai, menyerahkan kembali pemilihan kepala daerah kepada DPRD justru membuka ruang lebih besar bagi transaksi politik di balik layar. Model tersebut dinilai berisiko melanggengkan praktik oligarki dan mempersempit partisipasi publik dalam menentukan arah kepemimpinan daerah.

Saparuda juga mengingatkan bahwa kepala daerah yang lahir dari mekanisme pemilihan DPRD berpotensi kehilangan legitimasi publik. Loyalitas politiknya dikhawatirkan lebih mengarah pada kepentingan kelompok atau partai tertentu, bukan pada kepentingan rakyat yang seharusnya menjadi sumber utama kedaulatan.

“Jika kepala daerah tidak dipilih langsung oleh rakyat, maka akuntabilitas kepemimpinannya akan melemah. Ini membuka ruang transaksi politik dan konflik kepentingan yang justru merusak demokrasi,” ujarnya.

Ketua GMNI Aceh Tengah Saparuda menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu ini dan mengajak seluruh elemen masyarakat sipil, mahasiswa, serta organisasi kepemudaan untuk bersikap kritis. Bagi GMNI, menjaga Pilkada langsung bukan sekadar soal teknis pemilu, melainkan upaya mempertahankan ruh demokrasi dan memastikan kekuasaan tetap berada di tangan rakyat.

 

Redaksi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *